Tuesday, June 27, 2006

tokonang juo (terkenang jua...)


mohd zaki amir md derus potret II, 1964
beliau melukis potret gadis duduk atas kerusi. Figura ini diolah baik kecuali tanganya. Cantik tetapi keras, muka merah tanda watak yang ditempa kesusahan, terbalut oleh skaf yang juga merah. Kainnya juga merah yang menyarankan pembawaan watak: bila keputusan telah dibuat, dia bertindak serta merta. Dengan duduknya yang lurus ternyat dia enggan berlembut, enggan berkompromi, bertentang mata dengan lelaki, tiada gentar : itulah gadis Nogori yang merancang dan mengira.
Pameran Pelukis-Pelukis Negeri Sembilan
Khamis, 30 Mac 2006
Balai seni Lukis Negara
catatan...
Saya mendapat jemputan dari seorang kenalan untuk pergi menikmati hasil buah tangan anak-anak nogori, rasa terharu bila melihat anak-anak Negeri Sembilan di beri tempat yang tinggi di Balai Seni Lukis Negara. Setidak-tidaknya kita melangkah setapak dari kota rimba ke kota batu agar dapat kita gah berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan yang lain.
Melihat dan menghayati beberapa lukisan dari luahaan rasa pelukis... hati saya terpikat dengan lukisan diatas ... itulah gadis sejati bagi saya ... tak gentar dek gertak.
Banyak lukisan yang dipamerkan dan secara peribadi tak mampu rasanya untuk membuat membelinya cuma yang dapat menatap seketika agar terubat segala kehendak untuk memelikinya tetapi mungkin doa saya didengari oleh yang ESA, semalam saya menerima bungkusan yang dibalut rapi dari seorang sahabat dan bila dibuka, hati saya menjerit kesukaan manakan tidak beliau menghadiahkan senaskah buku cenderhati dari pihak balai seni lukis, segala lukisan dipamerkan dibukukan dan akhirnya saya memiliki lukisan yang dipamerkan. terima kasih teman ...

Thursday, June 08, 2006

balasan kepada bangsa jawa

terkini: merapi sudah meletup ... api neraka sudah disimbah kebumi jawa...

mereka tanya kenapa tuhan begitu zalim kepada mereka ... mereka tanya tuhan kenapa tidak sudah sudah malapetaka yang datang ... mereka meraung bila ahli keluarga mereka ditelan dek bumi yang marah ... mereka marah kan merapi yang mula memuntahkan darah ...
tapi
mereka lupa berapa banyak warga Acheh dibunuh oleh bangsa jawa... mereka lupa berapa banyak emas yang dicuri dari bangsa minang ...mereka lupa berapa banyak wanita bugis dan banjar di ratah oleh tentera mereka ... mereka lupa berapa banyak hamba abadi di iran jaya... dan bangsa jawa lupa tanggungjawabnya kepada Allah...mereka sanggup membunuh perjuang Islamiah, mereka memenjarakan ulama islam dari membuang berhala di Bali dan di Yokyakrta... mereka lupa untuk mengislamkan bangsa Jawa sepenuhnya, bangsa Jawa sanggup menjadi setengah ular setengah biawak utk mereka memerintah nusantara ... kerana masih ada masjid yang mempunyai berhala disana, mereka menghalalkan perkawianan campuran ugama...bangsa jawa telah lupa amanah Allah bila mereka menjunjung tampuk kerajaan... mereka penuh dengan koprasi, kroni dan ketidak-adilan, mereka lupa untuk membela agama islam tetapi mereka membunuh ugama islam itu sendiri ...
jadi
jangan salahkan Allah kerana itu semua ... kerana tangan-tangan kamu yang meminta ini semua ...
dan
ingatlah ini baru permulaannya ... api dari neraka baru saja dinyalakan ... belum lagi semarak... satu nusantara akan merasakannya ... kepada mereka yang mengetahui tanda-tanda ini ... marilah kita bersedia .... panggilan sudah semakin dekat ... teguhkan hati dan allah akan bersama kita ... acheh, bugis, banjar, batak, patani, kemboja, burma, moro .... akan bersatu kembali ... masa sudah hampir tiba... melayu raya akan kembali bersatu dan bendera hitam akan berkibar megah ... Allahu Allahu Allahu ....

Tuesday, June 06, 2006

BAHAGIA

Ada yang mengatakan, bahagia itu didapat oleh orang yang mempunyai kekayaan cukup. Karena jika ada kekayaan, segala yang dimaksud tentu tercapai. Orang kaya di mana dia tinggal perkataannya didengar orang, salah-salah sedikit cepat dimaafkan orang. Wang laksana madu lebah segala macam semut dan dan kumbang datang mengirup manisannya. Sengasara itu kemiskinan, meskipun benar perkataan yang keluar dari bibir, kebenaran itu tidak akan tegak karena tidak bertulang-punggung. Tulang-punggung ialah harta. Didalam majlis, yang kaya raya dikhaskan dikepala rumah. Sedangkan si miskin di muka pintu saja.
Ada yang mengatakan, bahawa bahagia dan kemulian itu pada nama yang masyhur dan sebutan yang harum, mentereng, dijadikan orang buah mulut, dipuji ketengah dan ketepi. Itulah bahagia; katanya, yang lebih berharga dari harta-benda, kerana kekayaan dunia tidaklah akan dibawa mati, tetapi "nama baik" tetap diingat orang.
Orang fakir mengatakan bahagia pada kekayaan
Orang sakit mengatakan bahagia pada kesehatan
Orang berdosa mengatakan bahawa suci itulah kebahagiaan
Orang bercinta mengatakan hasil maksudnya itulah bahagia.
Pemimpin mengatakan kemerdekaan dan kecerdasan ummat bangsanya itulah bahagia
Seseorang perawan kampung bernama Asma binti Bahdal, yang dikawini oleh Mu'awiyah bin Abu Sufyan (khalifah) mengatakan bahagianya apabila dapat kembali ke hutan rimba, di pondok buruknya walaupun dia didalam istana dan isteri kepada kalifah.
Bingung bila memikirkan hal ini . Dimanakah sebenarnya bahagia itu.
PERBAGAI PENDAPAT MENGENAI BAHAGIA
Yahya bin Khalid Al-Barmaky, seorang Wazir dari keturuanan Bani Abbas di tanya apa itu bahagia? Jawabnya: "Sentosa perangai, kuat ingatan, bijaksana akal, tenang dan sabar menuju maksud."
Hutai'ah pula pernah ber syair mengenai bahagia
"Menurut pendapatku, bukanlah kebahagiaan itu pada mengumpul harta benda;
Tetapi taqwa akan Allah itulah bahagia.
Taqwa akan Allah itulah bekal yang sebaik-baiknya disimpan.
Pada sisi Allah sajalah kebahagiaan para orang yang taqwa. "
Zaid bin Tsabit bersyair :
"Jika petang dan pagi seorang manusia telah beroleh aman sentosa dari gangguan manusia, itulah dia orang yang bahagia."
Ibnu Kaldun berpendapat :
"Bahagia itu ialah tunduk dan patuh mengikut garis yang ditentukan Allah dan berperikemanusiaan."
Abu Bakar Ar-Razi tabib Arab mengatakan :
"Bahagia yang dirasakan oleh seorang tabib, ialah jika ia dapat menyembuhkan orang sakit dengan tidak mepergunakan obat, cukup dengan mempergunakan aturan makanan saja."
Imam Al-Ghazali berpendapat :
"Bahagia dan kelezatan yang sejati iala bilaman dapat mengingat Allah."